Hello Kebaya Lovers!

OKTOBER bukan sekadar bulan untuk mengenakan pita merah muda (pink ribbon). Bulan ini menjadi pengingat bagi kita untuk lebih peduli terhadap kesehatan payudara dan memahami ancaman kanker payudara yang masih dihadapi perempuan di seluruh dunia.

Sepanjang Oktober dikenal secara global sebagai Breast Cancer Awareness Month atau Bulan Kesadaran Kanker Payudara. Peringatan ini bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai kanker payudara, mengenali faktor risiko, serta mendorong deteksi dini dan penanganan yang tepat. Lantas, seberapa besar ancaman kanker payudara bagi perempuan di dunia dan Indonesia?

2,4 Juta Perempuan di Dunia Didiagnosis Kanker Payudara

Menurut laporan World Health Organization (WHO), pada 2024 diperkirakan terdapat 2,4 juta perempuan yang didiagnosis menderita kanker payudara dan 694.000 kematian akibat penyakit ini secara global. Kanker payudara dapat terjadi di seluruh negara dan menyerang perempuan pada usia berapa pun setelah pubertas. Namun, tingkat kejadiannya meningkat seiring bertambahnya usia.

WHO juga mencatat adanya ketimpangan beban penyakit berdasarkan tingkat pembangunan manusia. Di negara-negara dengan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) sangat tinggi, sekitar 1 dari 12 perempuan diperkirakan akan didiagnosis kanker payudara sepanjang hidupnya, dan 1 dari 71 perempuan meninggal akibat penyakit tersebut.

Sementara itu, di negara-negara dengan IPM rendah, sekitar 1 dari 27 perempuan diperkirakan akan didiagnosis kanker payudara sepanjang hidupnya, dan 1 dari 48 perempuan meninggal akibat penyakit ini.

Perbedaan tersebut memperlihatkan bahwa akses terhadap deteksi dini, diagnosis, dan pengobatan yang memadai menjadi bagian penting dalam upaya menekan kematian akibat kanker payudara.

Data penderita kanker payudara di Indonesia tidak terpublikasi. Berdasarkan laporan GLOBOCAN yang dikutip dalam pemberitaan Kementerian Kesehatan RI, Indonesia mencatat 408.661 kasus baru kanker dan 242.988 kematian akibat seluruh jenis kanker setiap tahun. Angka tersebut merupakan data untuk semua jenis kanker, bukan khusus kanker payudara.

Dalam data yang sama, kanker payudara dan kanker serviks disebut sebagai ancaman utama bagi perempuan Indonesia, sedangkan kanker paru dan kanker kolorektal mendominasi pada laki-laki.

Apa Sebenarnya Penyebab Kanker Payudara?

Kebaya Lovers, kanker payudara tidak disebabkan oleh satu faktor saja. Secara medis, kanker payudara terjadi ketika sel-sel pada jaringan payudara mengalami perubahan atau mutasi genetik yang menyebabkan pertumbuhannya tidak terkendali. Sel abnormal tersebut dapat membentuk tumor dan, pada kondisi tertentu, menyebar ke bagian tubuh lainnya.
Mengutip informasi dari CDC (Centers for Disease Control and Prevention), terdapat sejumlah faktor yang dapat meningkatkan risiko kanker payudara.

1. Bertambahnya usia
Risiko kanker payudara meningkat seiring bertambahnya usia. Sebagian besar kasus didiagnosis pada perempuan berusia di atas 50 tahun. Namun, perempuan yang lebih muda juga dapat mengalami kanker payudara.

2. Faktor genetik dan keturunan
Mutasi gen yang diwariskan, seperti BRCA1 dan BRCA2, dapat meningkatkan risiko kanker payudara dan kanker ovarium.
Riwayat kanker payudara dalam keluarga juga perlu diperhatikan, terutama jika ibu, saudara perempuan, atau anak perempuan pernah mengalami penyakit ini. Riwayat kanker ovarium dan kanker payudara pada kerabat laki-laki juga dapat menjadi pertimbangan dalam penilaian risiko.

3. Faktor hormonal dan riwayat reproduksi
Menstruasi pada usia dini dan menopause pada usia lebih lanjut dapat memperpanjang paparan hormon tertentu selama hidup dan berkaitan dengan peningkatan risiko kanker payudara.

4. Jaringan payudara padat
Perempuan dengan jaringan payudara padat memiliki risiko kanker payudara yang lebih tinggi. Kondisi ini juga dapat membuat tumor lebih sulit terdeteksi melalui mamografi.

5. Riwayat penyakit payudara
Perempuan yang pernah mengalami kanker payudara memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami kanker kembali. Sejumlah kondisi payudara nonkanker, seperti atypical ductal hyperplasia dan lobular carcinoma in situ, juga berkaitan dengan peningkatan risiko.

6. Riwayat terapi radiasi dan paparan DES
Perempuan yang pernah menjalani terapi radiasi pada area dada, khususnya sebelum usia 30 tahun, memiliki risiko lebih tinggi mengalami kanker payudara di kemudian hari.
CDC juga mencatat paparan diethylstilbestrol (DES), obat yang pernah diberikan kepada sejumlah perempuan hamil di Amerika Serikat pada 1940–1971, sebagai faktor yang dapat berkaitan dengan peningkatan risiko kanker payudara.

7. Gaya hidup dan lingkungan
Obesitas, kurang aktivitas fisik, konsumsi alkohol, serta kebiasaan merokok merupakan beberapa faktor yang perlu diperhatikan dalam menjaga kesehatan. Paparan radiasi tertentu juga dapat meningkatkan risiko.

Meski demikian, memiliki satu atau beberapa faktor risiko tidak berarti seseorang pasti akan mengalami kanker payudara. Sebaliknya, orang yang tidak memiliki faktor risiko yang jelas tetap dapat terkena penyakit ini.

Jangan Menunggu Sakit untuk Peduli
Kanker payudara bukan hanya persoalan angka statistik. Di balik setiap angka, ada perempuan, keluarga, dan orang-orang terdekat yang ikut menghadapi perjalanan panjang diagnosis dan pengobatan. Karena itu, Bulan Kesadaran Kanker Payudara seharusnya tidak berhenti pada penggunaan pita merah muda atau unggahan di media sosial.

Kita perlu membangun kebiasaan untuk mengenali tubuh sendiri, memahami faktor risiko, dan tidak mengabaikan perubahan yang mencurigakan. Kebaya Lovers, yuk, jadiin Oktober sebagai momentum untuk lebih peduli terhadap kesehatan diri sendiri dan orang-orang yang kita sayangi. ***

Bagaimana menurut Anda artikel ini
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *